Thursday, 8 March 2012

B.E.L.A.J.A.R

Life is learning.
Mr Asib in Speaking Class on Thursday

Hidup untuk belajar. Ya. Memang hidup ini untuk belajar. Namun ketika kesalahan itu dilakukan hingga berulang-ulang akankah itu disebut sebuah proses belajar?

Kadang kita salah mengartikan life is learning sebagai sebuah proverb yang mengijinkan kita untuk selalu berbuat kesalahan yang sama. Namun sesungguhnya esensi dari proverb ini sendiri  adalah mengajarkan kita untuk belajar dan kemudian tidak mengulangi kesalahan yang sama untuk kedua kalinya.
15.08
di sela-sela final JOVEC

Saturday, 11 February 2012

Exploring Semarang with SIM

Saya rasa emang selama liburan saya jadi tambah males nulis deh. Sekarang aja setelah selama sebulan liburan tulisan saya cuma ada 2 butir.. hahaa. Kenapa bisa begitu? Kalo ditelisik kayaknya gara-gara saya kebanyakan main deh. Setelah kemarin dari Bandung Bermartabat dan Sragen Asri akhirnya hari Selasa kemarin saya menginjakkan kaki di Kota Semarang Indah. Seharusnya saya ndak bisa ikut rombongan kemarin main ke Semarang sih. Soalnya acaranya diperuntukkan untuk anak-anak SIM departemen Keilmiahan. Secara saya kemarin terlambat daftar buat SIM, harusnya kemarin saya juga ndak bisa ikut kan. Tapi waktu kemarin ke Sragen dan dapat info dari Mb Erny kalo mau main ke Semarang dan bagusnya lagi ada kursi yang masih kosong, jadilah akhirnya kemarin saya ikut main ke Semarang. So Let's Rock! haha


Sebelum mulai cerita waktu di Semarang, karena saya juga ndak sempet posting tulisan waktu di Sragen, ini ada beberapa foto waktu kemarin ke Museum Sangiran di Sragen.


Ini foto candid loooh #apa deh


Di depan Museum Sangiran ada patung kepala Manusia Purba


Jadi ceritanya Sangiran itu merupakan salah satu
warisan dunia yang telah diakui oleh UNESCO


Dari sini mulai cerita tentang Semarang.
Perjalanan ke Semarang dimulai ketika jam quartz di tangan kiri saya menunjukkan pukul 08.10. Tapi mungkin jam di tangan/handphone nya Adi masih nunjukin pukul 08.00 (secara jam tangan saya waktunya dimajuin 10 menit). Lalu siapa Adi? Nah saya kenalin dulu deh. Jadi kayaknya karena kurang tau juga, hehe. Adi itu sie acara dari acara jalan-jalannya SIM ke Semarang ini. Sekilas pandang tentang Adi, Adi ini adalah anak Fakultas Pertanian sekaligus anak HIMAGHITA! (kenapa saya nulis HIMAGHITA dengan tulisan capslock semua? tak lain dan tak bukan kalo nyebut organisasi ini seperti membuka luka lama. Ceritanya waktu dulu SMA ikut lomba yang diadain HIMAGHITA, eehhh kalaaahhh.. Jadilah saya punya cita-cita kalo kuliah mau ambil fakultas pertanian UNS trus ikut HIMAGHITA. Tapiii takdir berkata lain....
Sudah cukup yak sedikit perkenalan sama Adi.


Adi yang pake baju putih kotak-kotak lagi buka dompet.
Big bos kita sih. yang bayarin kemana-mana :D
Perjalanan ke Semarang ini adalah yang pertama untuk saya kalo ndak boleh dibilang yang kedua karena dulu waktu lomba mata pelajaran komputer juga di Semarang, tapi ndak bisa tau banyak tentang Semarang karena hanya ke LPMP saja dan ndak main ke mana-mana (Selain itu perjalanan melewati Semarang yang dulu sering saya tempuh kalo mau ke Jakarta tidak dihitung pula, karena kan saya cuma lewat ndak main di Semarang, hehe). Oke! Perjalanan cukup panjang saya lewatin bersama-sama dengan anak-anak SIM yang ilmiah banget (ciieee). Yaelah secara ya waktu itu acara jalan-jalan, mereka masih bahas tentang lomba karya tulis yang bakal mereka adain bulan Mei besok. Jadi untuk sekedar info, seperti tahun-tahun sebelumnya SIM bakalan ngadain lomba bertajuk FILM (lagi). So, buat temen-temen yang berminat, bisa diikutin terus tuh infonya di web nya SIM. Nih saya kasih deh link nya http://sim.uns.ac.id/.


Karena maksud saya nulis blog bukan buat bagi-bagi alamat web, jadi mari kembali ke tujuan awal. hehhe.. Cerita tentang perjalanan ke Semarang. Perjalanan ke Semarang ini melewati beberapa kabupaten/kota. Yakni, Boyolali, Salatiga, Ungaran dan selanjutnya Semarang. Perjalanan ini menempuh waktu 2,5 Jam lebih berapa menit untuk muterin tugu muda. hehe.. Jadi ceritanya Bapak supir yang nganterin kita hari itu kurang terlalu hafal (atau emang belum tahu) lokasi-lokasi di Semarang. Mau masuk Lawang Sewu aja yang menjadi first destination, harus muter-muter dulu baru akhirnya sampai tujuan. (ini maksudnya bukan nyalahin supirnya loh, cuma buat tambahan cerita aja :D )


Setelah dikira bener posisi parkir bis yang saya dan temen-temen tumpangi, akhirnya satu per satu penumpang turun dan saya pribadi langsung menginjakkan kaki saya di pusat kota Semarang! Dalam hati membatin,'akhirnya kesampaian juga main ke Semarang'. Jadi, janji saya waktu di Bandung dulu buat main ke Semarang kesampaian juga hari Selasa  kemarin dalam kurun waktu hanya 2 minggu pula :D

Ini dia temen-temen SIM yang ilmiah banget.
Ada Emak Kalis, Mb Intan, Mb Fairus, ..., Mila
(aduh maaf yang urutan keempat saya lupa namanya)
Naah setelah Adi mmenyelesaikan administrasi bersama seorang Ibu yang menjadi pegawai di Lawang Sewu, saya dan temen-temen SIM akhirnya mulai masuk ke Bagian tengah halaman Lawang Sewu. Untuk mempermudah pemahaman tentang Lawang Sewu, hari itu kita ditemenin sama Malisa (namanya kayak cewe yak. hehe). Jadi Malisa ini adalah tourguide di Lawang Sewu. Sudah bekerja di Lawang Sewu selama kurang lebih 2 tahun dan sudah sangat mencintai lawang Sewu (informasi yang pertama bener, tapi yang kedua cuma dari feeling saya. hehe. Soalnya Malisa tau banget sih tentang Lawang Sewu. #plak!)


Ini dia Malisa

Sedikit penjelasan yang saya tangkep dari Malisa yak. (soalnya waktu malisa njelasin malah saya foto-foto di sekitar Lawang Sewu sama Mbak Fafa :D ). Lawang Sewu berdiri pada tahun 1904 dan digunakan sebagai kantor Nederlansch Indische Spoorweg Maatscappij (NIS). Sekedar informasi buat temen-temen yang suka bolos waktu SMA, NIS adalah sebuah perusahaan Kereta Api Swasta Hindia Belanda. Katanya Malisa juga, dengan mempertimbangkan masalah  sanitasi dan hal lainnya yang emang perlu diperhatikan dalam membangun sebuah bangunan (jadi keinget Bima yang mahasiswa Teknik Sipil. hehe), blueprint (cetak biru) dari bangunan Lawang Sewu dibuat oleh  Prof. Jacob F. Klinkhamer (TH Delft) dan B.J. Ouendag, dua-duanya adalah arsitek yang berdomisili di Amsterdam. Saya juga sempet lihat di cetakan kertas blue print nya di bagian bawah ada tulisan 1903. Berarti rancangan bangunan Lawang Sewu dibuat setahun sebelum nya di Amsterdam. 


Bangunan Lawang Sewu sendiri tidak seperti namanya yang berarti seribu pintu tapi Lawang Sewu hanya memiliki 400an pintu. Sedikit guyonan dari Malisa yang saya pikir garing, karena saya sudah pernah baca buku mengenai Lawang Sewu, katanya Lawang Sewu pintunya ndak hanya berjumlah Sewu tapi malah dua ribu, tapi jumlah daun pintunya mbak. Gitu kata Malisa. Buat nyenengin dia saya ikut ketawa aja (maap ya Malisa T.T )
Berikut beberapa hasil foto waktu saya di lawang Sewu.

Sebelum mulai berkeliling Lawang Sewu, bergaya dulu :D


Ini di Lantai 2 Lawang Sewu


Ini Mba Fafa, partner in crime saya
Lawang Sewu adalah bangunan yang memiliki arsitektur keren menurut saya. Bagaimana tidak menurut cerita dari Malisa juga, Lawang Sewu memiliki sistem pendingin alami. Sistem nya yang bisa saya tangkep, jadi di bawah ada tampungan air dan arsitekturnya dibuat sedemikian rupa sehingga ruangan bertingkat di Lawang Sewu diusahakan bisa tetap dingin. Sebagai tambahan cerita dari Malisa (aneh deh saya nyebut nama Malisa banyak banget di sini), genting-genting di Lawang Sewu belum pernah diganti dari sejak awal berdirinya. Jadi kalo saya ndak salah itung, genting-genting di lawang Sewu sudah berumur lebih dari satu abad. Jadi kan Lawang Sewu selesai dibangun tahun 1907 berarti lima tahun lagi ulang tahun ke seratus sepuluhnya genting Lawang Sewu #penting ndak sih saya bahas ini -,-

Selain itu, bahan-bahan yang digunakan untuk membangun Lawang Sewu didatangkan dari luar negeri. Batu batanya pun kalo dibandingkan dengan batu bata yang beredar saat ini di Indonesia jauh banget kualitasnya. Saya coba pukul pake kepalan tangan saya (yang biasanya saya pake buat mecahin plastik air, waktu lomba pukul air RT) malah tangan saya yang jadinya merah T.T

Penasaran dengan struktur bangunan yang ada di Lawang Sewu, hari selanjutnya setelah kepulangan dari Lawang Sewu saya coba browsing tentang struktur bangunan Lawang Sewu dan mendapatkan jawabannya di web ini:

Setelah berkeliling di salah satu Gedung Lawang Sewu kemudian kita dibawa Malisa menuju Museum yang menyimpan beberapa hal tentang Lawang Sewu. Di sini disimpan beberapa material yang digunakan untuk membangun Lawang Sewu. Ada batu bata, genting, blue print, dan lain-lain. Setelah dirasa  cukup mendapat informasi di Museum nya ini, saya dan teman-teman sedikit demi sedikit keluar. Dan seperti kebiasaan saya kalo lagi di luar kota: ambil foto sebanyak-banyaknya. hehe

Ini Husin temen saya waktu LKMM ternyata ikut SIM,
lagi ngamatin batu bata yang digunakan untuk bangunan Lawang Sewu


Saya dan blue print lawang Sewu


Hasil foto saya. Kombinasi keahlian dan
pencahayaan yang sempurna sekali. haha


Foto yang paling bagus yang diambil d Lawang Sewu nih.
Yang lain cuma bagus aja. :D


Ini Malisa waktu ngucapin sampai jumpa ke saya dan temen-temen.
Ada Bima, mb Kalis, dan Mb Fafa yang tetep gaya -,-


Ini foto terakhir yang diambil Malisa untuk saya dan temen-temen SIM


Waktu menunjukkan pukul 12.30 dan saatnya berpisah dari Malisa T.T Walaupun guyonan nya sering garing dan memanfaatkan trik psikologis lawan bicara, saya tetep seneng sama Malisa. Perpisahan dengan Malisa adalah hal yang saya sesalkan hari itu. #lebay

Sie acara alias Adi langsung koar-koar ke semua nya untuk  segera kembali ke bus dan selanjutnya meneruskan perjalanan ke Masjid Agung Jawa Tengah yang selanjutnya akan saya sebut sebagai MAJT aja.. (kepanjangen sih namanya. hehe)

Waktu menunjukkan pukul 12.55 (tetep menurut jam quartz saya), ketika kita sampai di MAJT. Baru pertama kali juga masuk ke MAJT ini, dan langsung ternganga dengan bangunan MAJT yang dulu sempat fenomenal banget waktu masa pengerjaannya. Apalagi waktu diresmikan sekitar tahun 2006 tambah fenomenal lagi. Saya masih inget dulu waktu tukang koran dateng ke rumah saya nganter koran Su*ra Merd*ka ada berita tentang peresmian MAJT. Informasi yang saya dapet dulu ada beberapa yang masih saya inget. 

Jadi di MAJT terdapat 6 payung hidrolik yang bisa membuka dan menutup sesuai kebutuhan. Denger-denger dari temen SIM, payungnya kebuka waktu hari jumat aja. Yang punya payung hidrolik seperti ini bukan hanya MAJT aja tapi Masjid Nabawi juga. Jadi ceritanya MAJT ini mengadopsi sistem di Masjid Nabawi :D

Saya ndak langsung berfoto-foto di sekitaran masjid karena lebih mentingin ibadah  dulu #ciiieeee -,- Waktu memasuki wilayah MAJT, memang ternganga dengan bangunannya. Tapi ketika menginjakkan kaki pertama kali di MAJT, kita ternganga dengan panasnya keramik di batas suci masjid. hehe.. Payung hidrolik dibuka dan hawa panas terakumulasi di keramik. Jadilah saya dan temen-temen langsung loncat-loncat kayak cacing kepanasan. hehe.

Sholat dhuhur selesai dilakukan. Dan saya dan temen-temen langsung memanfaatkan arsitektur MAJT yang subhanallah bagus untuk berfoto sana sini.

Gaya XL. Katanya gara-gara FILm tahun ini
disponsori penuh sama XL. Selamat yaaa :D


Ini loncat kepanasan :D


Saya ndak kepanasan dong. Pake kaos kaki sih :D


Selain dipengaruhi Masjid Nabawi, MAJT juga dipengaruhi
arsitektur gaya Roma. Niih buktinyaa...


Ini Mba Fafa lagi bergaya..


Ini prasasti peresmian MAJT. batunya diambil dari
Gunung Merapi loh..
Beberapa saat setelah asik mengambil foto sana sini dateng sms dari emak Kalis yang ngajakin makan siang di kantin bareng Bima. hahaa.. Langsung ngacir ke kantin deh. Setelah selesai makan siang langsung cabut berangkat ke PANTAI MARINA (perjalanan akan sangat panjang -,-)


Pukul 14.20 kita cabut dari MAJT dan pukul 15.50 sampai di Pantai Marina dengan peluh bercucuran (peluh nya bapak supir maksudnya). Jadi kalo tadi bapak supir nya bingung lokasi Lawang Sewu, ini dibuat bingung lagi dengan lokasi Pantai Marina. Bus berjalan jauh ke Barat tapi ternyata lokasinya udah kelewatan. hehe. Jadilah puter balik. Dari proses perjalanan ke Pantai Marina ini kemudian saya berpikir tentang Semarang. Dengan segala pesonanya ternyata juga mengalami permasalahan yang sama dengan kota-kota besar lain di Indonesia. KEMACETAN. Apalagi ditambah dengan adanya perbaikan jalan di salah satu ruas jalan.


Pantai Marina karena letaknya di pesisir utara Pulau Jawa, jadi sejak awal saya ndak mengharapkan pasir putih yang biasa saya dapatkan kalo ke pantai-pantai di wilayah pesisir selatan Pulau Jawa. (Saya bukan anak pantai, tapi kalo liat pantai di pesisir selatan Jawa rasanya pengen terus-terusan di sana. haha). Kembali ke Pantai Marina. Jadi di sini saya bisa melihat langsung Laut Jawa karena memang Pantai Marina berbatasan langsung dengan Laut Jawa. Ada fenomena unik jadi dari atas bisa diliat batas air yang warnanya coklat dan warna hitam (kenapa hitam dan bukan biru?). Jadi ceritanya itu adalah batas dari air laut dan air tawar. Karena memang di sisi timur pantai merupakan tempat bermuaranya sungai banjir kanal barat. 


Waktu di Pantai Marina saya mendapat sedikit penjelasan dari temen SIM (Mas Agus Suroso apa Bima yak waktu itu ato mas Mirza?) tentang fenomena ini yang disebutkan dalam Al Qur'an. Jadi kalo menurut ilmu IPA yang saya dapet selama 4 tahun di SD, 3 tahun di SMP dan 3 tahun di SMA, masa jenis air laut dan air tawar berbeda. Jadi keduanya tidak bisa bersatu. Seperti halnya minyak dan air. Saya jadi bayangin ikan air tawar sama ikan air laut yang bertemu di bawah sana dan saling jatuh cinta tapi tidak bisa bersatu. hehe..
Ini Adi yang nekat turun ke pantai


 Ini saya dong. MIA FEBRIANA


Narsis deh -,-


Mas Agus Suroso kembar sama Mas Agus Suryono.
Tapi mas Agus II ndak ikuut. 


Ini Emak Kalis, Mas Kris, saya, BIMA WIRAWAN :D


Saya bareng temen-temen SIM :D


Temen-temen SIM (Male side)
Daaaann waktu menunjukkan pukul 17.05 dan (lagi-lagi) Adi mengomando saya dan temen-temen untuk kembali masuk ke bus dan selanjutnya pulaaaangg :D


thanks to : Mb Erny yang mengajak saya main dan mas Yuliardika (direktur SIM) :D


Ini dia mas Dika
Pukul 21.20 akhirnya saya dan temen-temen sampai lagi di Solo Berseri and experience today was so GREAT! :D

Saturday, 28 January 2012

Bandung Bermartabat

Menghilang beberapa saat dari dunia per-blog-an saya pergi ke beberapa tempat di beberapa kota. hahaa.. Gaya banget kan. Dan kalo ditelisik lebih jauh sepertinya sekarang saya kecanduan travelling. Kayaknya keren juga sih kalo misal ntar di CV saya yang bagian hobi ada tambahan kata 'travelling'. Biar ntar ada yang nanyain udah pernah travelling kemana aja. #eeaaaaa..

Naah kali ini saya ndak bakal bahas tentang isi dalam CV tapi mau cerita mengenai acara backpacking saya kemarin ke Bandung tanggal 18-20 Januari 2012. Acara berawal hanya dengan obrolan singkat dengan Mbak Atin tentang keinginan yang sama untuk menjelajah Kota Bandung. Tanpa banyak obrolan, pertimbangan, dan hal ribet lainnya, akhirnya saya menghubungi Mas Arif. Mas Arif adalah kakak kelas saya waktu di SMP yang sekarang kuliah Teknik Informatika ITB. Sama Mas Arif akhirnya nyusun rencana untuk travelling di Kota Banndung. Mas Arif ini baik banget. Jadi beliau yang susun acara dari awal kita dateng di Bandung sampai akhirnya pulang lagi. Selain dua orang yang telah disebutkan di muka, ada satu lagi orang yang ikut dalam travelling ini. Namanya Wakhid. Wakhid itu anak BEM yang saya kenal waktu ikut LKMM di Tawangmangu.

Tanggal sudah disepakati, lama hari sudah disepakati, tiket sudah fix, dan rundown acara pun sudah dibuat sama Mas Arif. Jadilah pada hari Rabu petang sekitar pukul 18.30 kita bareng-bareng (kecuali Mas Arif) berangkat ke Stasiun Jebres untuk nunggu Kereta Kahuripan yang akan membawa kita ke kota Bandung :D

Waktu itu saya dianter sama Mas dan Mba saya yang baik-baik banget.. hehe.. Saya berangkat dengan dibonceng Mba Atin. Lalu bagaimana dengan Wakhid? Katanya sih dianter temennya. Kita sampai di Stasiun  pukul 18.40 dan Wakhid datang pukul 18.50. Setelah semua kumpul tinggal nunggu kereta Kahuripan yang tiketnya kita beli hanya dengan harga Rp 35.000,00. Muraah kaan? Maklum ekonomi..  hehe...

Sesuai Jadwal, kereta datang pukul 19.15 dan berangkat pukul 19.17. Ini adalah pengalaman pertama saya naik kereta api kelas ekonomi dengan jarak tempuh jauh. Biasanya cuma naik Prameks yang sampai Yogya.. Perjalanan ke Bandung membutuhkan waktu yang cukup lama. (Lebih dari 12 jam dengan jarak Surakarta-Bandung 426 KM). Lagi-lagi yang harus dimaklumi adalah kita naik kereta ekonomi. Jadi misal ada kereta eksekutif akan lewat, kereta ekonomi harus ngalah dengan berhenti di pinggir dan memberikan jalan untuk kereta eksekutif, but so far so good. Kita sangat menikmati perjalanan ini.. Kereta ekonomi sudah tidak seperti kereta-kereta ekonomi pada era sebelum ada pembatasan penumpang. Jadi kalo bisa saya katakan dan dari cerita Mas Arif juga yang sudah berpengalaman naik kereta, kereta ekonomi dan bisnis, hampir mirip.

Setelah melalui perjalanan panjang melewati beberapa daerah seperti Purworejo, kebumen, Cilacap, Kroya, Ciawi, Nagreg akhirnya kita sampai di Stasiun Kiara Condong. Namun sebelum sampai di sini, kita melewati sebuah rel yang berupa jembatan. Lumayan menegangkan untuk pertama kali lewat sini.

Ini dia jembatanya :D
Dan ini stasiun Kiara Condong
Setelah sampai di Stasiun kemudian ndak susah sih untuk menemukan seorang mas Arif. hahaa.. Jadilah setelah ketemu kita langsung jalan.. dengan menggunakan angkot kita menuju Alun-alun kota Bandung. Di perjalanan sebenernya mau mampir ke Trans Studio untuk numpang foto-foto di depannya, tapi setelah dipikir ulang, males gilak cuma foto aja. haha. Sedangkan kalo kita masuk pengeluaran jadi membengkak. So, akhirnya kita langsung menuju Alun-alun kota Bandung. Di alun-alun terdapat Masjid Raya Bandung. Jadi ini semacam masjid Agung-nya Kota Bandung. Seperti di masjid-masjid agung lain, daerah di sekitar masjid ini juga dijuluki Kauman atau Kampung Beriman. Setelah beberapa saat melepas lelah di Masjid, akhirnya kita langsung lanjut perjalanan ke Jalan Asia Afrika.

Ini waktu di Masjid Raya kota Bandung
Sebelum sampai di jalan Asia Afrika nyempetin beli koran yang hanya dicetak di Propinsi jawa Barat dan kota Bandung aja. Saya beli Harian Pikiran Rakyat dan Bandung Ekspres. yah biar ada kenangannya lah main ke Bandung. hehe.. Waktu ke Malang dan Surabaya rada nyesel soalnya kepikiran beli koran tapi malah ndak beli. Di Jalan Asia-Afrika terdapat Gedung Merdeka dan Museum Asia Afrika. Selain itu juga ada Kantor Harian Pikiran Rakyat dan tentu saja Monumen 0Km Bandung.

Ini di depan kantor Harian Pikiran Rakyat. Belakang saya adalah
mesin ketik yang digunaakan pada awal berdirinya koran ini.


Akhirnya kesampaian foto di monumen 0KM ini. 


Ini dia jalan trotoar di Jalan Asia-Afrika
Samping Kanan saya adalah Mba Atin sedangkan samping kiri saya itu Mas Arif.
 Setelah berfoto di depan Monumen 0 km, kita menuju Braga City Walk. Braga City Walk ini adalah jalan yang lumayan terkenal di kota Bandung, di sini banyak digunakan untuk memajang lukisan, ya semacam galeri. ada Kantor Antara News juga di sini.

Ini Wakhid waktu di Braga City Walk
Dan di Jalan Braga ini saya menemukan pemandangan yang kontras mengenai bus DAMRI. Jadi seperti saya melihat bus pada zaman dahulu dan kemudian disuguhi dengan bus pada zaman sekarang.

Ini bus zaman dahulunya


Ini bus yang zaman sekarang. hehe
Setelah puas  mengeksplore Braga City Walk kemudian kita menuju Balaikota Bandung. Kalo boleh saya katakan ketika saya masuk Balaikota saya malah terbayang Kebun Binatang. hehe.. Ada Patung Badak bercula satu. di Balikota ini kita juga sekalian istrahat. Setelah dipikir-pikir dan dirasakan ternyata kita berempat sama-sama kelaparan. Alhasil langsung cari tempat makan di pinggir jalan. Ketemulah sama Lontong Opor Sapi apa ya namanya kok saya rada lupa. Di sini kita tiap orang menghabiskan uang Rp 6.000,00. Di Bandung, apabila kita tidak memesan minum kita akan disuguhi dengan teh tawar (teh tanpa gula) berbeda dengan di Solo atau Yogya yang biasanya kita dikasih air putih.

Perut Kenyang, perjalanan kemudian berlanjut ke Gang Pancasila. Oh ya perlu dijadikan catatan di Kota Bandung banyak banget Bank. entah itu bank nasional maupun bank kota dan daerah. Selain itu Kota Bandung juga menjalin hubungan dengan kota lain di dunia, yakni semacam sister city. kota Bandung memiliki sister city dengan Texas, Braunschweig, serta Kota Liuzhou. Dan yang perlu diketahui ketika kita menemukan beberapa spot di Solo yang diberi label Roti bakar bandung ato peuyeum bandung dan label-label tentang Bandung, namun ketika kita di Bandung kita ndak bakal bisa menemukan itu semua dan digantikan dengan label kota lain seperti Iga Bakar jogja, Bali Seafood, Bakso Wonogiri, dan lain-lain.

Setiap Bandung memiliki sistercity ditandai dengan adanya tugu seperti ini


Bali Seafood dari luar, kalo ke dalem ndak punya duit. hehe
Setelah melalui perjalanan yang cukup panjang dan lumayan membuat kaki rada pegel, akhirnya kita sampai juga di Gang pancasila temmpat kontrakan Mas Arif. Kita mampir ke sini untuk ambil motor. Nah ndak baik gimana coba mas Arif. Uda nyusunin jadwal kita, masih minjemin motor pula. hehe..

Setelah cukup istrahat dan mengisi ulang persediaan air minum di botol, akhirnya kita tancap gas untuk menuju destination selanjutnya yaitu Universitas Pendidikan Indonesia atau yang kadang lebih kita kenal dengan sebutan UPI. Yang kelak kita akan menyesal karena sudah masuk UPI ini.. haha

Bagaimana tidak menyesal dengan melihat bangunan UPI yang sebegitu luas dengan tatanan gedung-gedung yang sudah bagus dan menggunakan lift -,-
bukan bermaksud membandingkan tapi maksud apa yak. haha.. Membayangkan saja, kapan kampus saya pake lift. Kalo pake lift pasti saya jadi rajin naik turun gedung. #loh? yang  jadi pertanyaan jadi rajin atau malas? berhubung budaya kita misal dimanja malah semakin menjadi malas melakukan hal yang lebih baik dari sebelumnya.
Gelanggang Renang UPI
Saya tidak akan cerita panjang lebar mengenai UPI. Intinya UPI yang berdiri pada tahun 1954 dengan title Perguruan Tinggi Pendidikan Guru memiliki bangunan dan areal kampus yang sangat luas. Kalo kata Mba Atin kolam renang di UPI bisa digunakan untuk menyelenggarakan even Paragames dan lapangannya bisa saya gunakan untuk latian nyetir mobil. hahaa..

Oh ya mengapa kita bisa sampai di UPI alasannya tidak lain dan tidak bukan karena partner saya waktu SMA, Agus Ramelan. Sekarang menuntut ilmu di Pendidikan Teknik Elektro UPI. Senang sekali bisa bertemu di Bandung.

Agus Ramelan
Setelah puas berkeliling menyambangi UPI, kita akhirnya menuju Lembang tempat impian saya berada. OBSERVATORIUM BOSCHA. yaah seperti anak kkecil lain yang suka berandai-andai dan memimpikan sesuatu pun dengan saya. Dari sejak nonton Petualangan Sherina di VCD yang baru dibeli pada hari sebelumnya, saya sangat menginginkan untuk bisa minimal menginjakkan kaki di depan gerbang observatorium ini. Dan pada tanggal 19 Januari 2012, impian saya akhirnya tercapai. hehe

Waktu saya di BOSCHA
Karena pada saat kunjungan adalah hari kamis, kita tidak bisa masuk ke ruang teropong karena untuk perorangan jatah kunjunggan adalah hari Sabtu. Jadilah kita hanya foto-foto di depan bangunannya saja. Kalopun kita bisa masuk setiap orang akan dipungut biaya Rp 10.000,00 denggan mendapat fasilitas pendampingan dan penjelasan dari seorang guide. Untuk siswa biayanya hanya Rp 7.500,00 saja. Setelah puas di BOSCHA kita kembali lagi ke UPI. Ternyata tadi ada satu bangunan yang masih kita lewatkan. UPI memiliki gedung icon yang digunakan di semua media publikasi UPI. Gedung icon ini digunakan untuk kesekretariatan kampus..
Gedung icon UPI
Cukup berfoto-foto di depan Gedung icon UPI, tak terasa waktu terus berjalan dan harus mengucapkan 'sampai jumpa' ke Ramel. Kemudian acara berlanjut ke Museum Geologi di Jalan Diponegoro. Untuk mencapai museum ini nantinya akan melewati fly over Pasupati (hhuuaaa bagus looh).

Pukul 14.50 kita sampai di Museum Geologi. Langsung masuk ke Museum dan kemudian berkeliling beberapa saat. Saya kepisah dari temen-temen dan akhirnya mereka bingung nyari saya. hahaa.. Saya masih asik di dalam, mereka malah udah pada keluar.. Di Museum Geologi ini ada replika dinosaurus yang besar sekali.

Fosil dinosaurus yang besar banget
Museum Geologi tampak depan
Kemudian setelah dari museum Geologi cari makan siang di pinggir jalan lagi.. Kali ini kita berempat habis Rp 36.000,00 kalo dirata-rata jadi tiap anak menghabiskan Rp 9.000,00. Setelah puas makan, kita kembali ke tempat parkir dan menunggu mas Arif dan Wakhid solat ashar. Saya dan Mbak Atin sudah menjamak solat ashar dengan dhuhur ketika di UPI tadi. Setelah mereka selesai, perjalanan lanjut ke UNPAD dan hanya berfoto di depan Rektorat dan kemudian kita berpindah ke Institut Teknologi Bandung (ke ITB ini seperti membuka luka lama. hahaa). 

Waktu di ITB
Banyak banget penjelasan Mas Arif tentang ITB ini. Salah satunya adalah bunga yang berada di gerbang ITB yang saat ini berwarna ungu, ketika bulan Agustus akan berubah warna menjadi kuning. Di ITB yang merupakan eco-campuss disediakan beberapa sepeda untuk digunakan secara bebas oleh mahasiswanya. Sepeda motor mahasiswa dilarang untuk masuk wilayah kampus. Jadi tidak mengherankan kalo di ITB sepi sepeda motor. Bagian tengah kampus terdapat kolam yang dibawahnya terdapat keramik membentuk gambar NKRI. di pinggir-pinggir kolam tertulis nama-nama jurusan yang ada di ITB. 

Selain hal-hal di atas yang menarik dari ITB adalah Gedung di ITB diberi nama dengan nama donaturnya. Misalnya T. P. Rachmat dan Benny Subianto. konon untuk bisa mematri nama di sini mereka memberikan uang sejumlah 25 M Rupiah. ckckckck.. Untuk mewujudkan eco-campus juga, ITB memberikan area merokok untuk dosen maupun mahasiswa di bawah pohon yang terdapat tiang berpalang kuning. Ketika lihat ini saya tertawa ngakak.. bisa tuh diterapin di UNS juga.. Biar polusinya keserap pohon. hehe..

Setelah cukup puas mendengar cerita Mas Arif dan melihat-lihat ITB dan hari sudah mulai petang juga, kami memutuskan untuk kembali ke kontrakan mas Arif untuk mengembalikan motor dan kemudian pulang. Setelah melakukan solat maghrib di masjid dekat kontrakan mas Arif, kita langsung bersiap-siap pulang dan menuju Stasiun Kiara Condong dan (lagi-lagi) menunggu Kereta Kahuripan. Sebelum sampai di Stasiun, karena waktu masih tersisa cukup lama kita mampir untuk makan malam. Untuk makan malam, kita menghabiskan Rp 5.000,00.

Acara travelling di Kota Bandung berakhir seiring datangnya Kereta Kahuripan dari arah barat. hehe..

Jadi biaya yang saya keluarkan untuk travelling di Kota Bandung ini rinciannya adalah sebagai berikut:
Tiket PP Kereta Kahuripan Rp 70.000,00
Sarapan                            Rp  6.000,00
Makan siang                      Rp   9.000,00
makan malam                   Rp    5.000,00
Angkot 2x                        Rp    5.000,00
parkir museum                  Rp   2.000,00
Jadi total biaya yang saya keluarkan adalh Rp 97.000,00
Dengan pengeluaran di bawah seratus ribu dan kita bisa main di Kota Bandung. asiik kaan...
Ayok pada Backpacking ke Kota Bandung Bermartabat. Tapi temen-temen juga harus punya temen yang minimal sebaik Mas Arif. :D
Makasih Mas Arif yang sudah membantu banyak untuk perjalanan kita ini.. :D

Sunday, 8 January 2012

Ini Bangsa AMNESIA

Sekarang ketika kehidupan belum terlalu banyak menuntut kebutuhan, aku masih bisa mengatakan bahwa aku akan menyerahkan seluruh ilmu yang telah aku terima untuk sebuah pengabdian kepada nusa dan bangsa. Namun apakah yang akan terjadi di suatu hari di masa depan ketika aku telah dipengaruhi oleh kebutuhan yang memaksa ku untuk tidak berpikir lagi tentang pengabdian?

Seperti pada sore itu setelah diskusi dengan beberapa orang tentang pendidikan, PNS, hingga pada pokok bahasan yang memang riskan dan mudah dilupakan. Pengabdian. Masih teringat jelas ketika Mas Roseno Hendratmojo mengatakan,”Saat ini kamu bisa mengatakan hal seperti itu. Tapi mari kita lihat beberapa tahun ke depan ketika kamu mulai dituntut kebutuhan. Apakah kamu akan tetap melakukan seperti yang kamu katakan sekarang?”

Sebuah pertanyaan yang menohok dan memang telah menjadi pengganggu dalam pikiranku sejak aku mengatakan bahwa ketika menjadi PNS aku akan sepenuhnya mengabdi pada negaraku. Mengabdi pada nusa bangsa tempat aku dilahirkan. Tanah merahku. Tanah dimana aku berpijak, belajar, dan bertumbuh.

Catatan ini bukanlah sebuah PENGUAT bahwa aku akan melakukan pengabdianku kelak di kemudian hari betapapun aku dituntut kebutuhan seperti apa. Namun catatan ini adalah sebuah PENGINGAT untuk ku kelak di masa depan sehingga aku tidak mengalami AMNESIA seperti apa yang terjadi pada sebagian besar penghuni negeri ini. AMNESIA bahwa mereka telah banyak membebani Negara dengan selalu menuntut dan tidak memikirkan apa yang telah mereka berikan pada Negara ini. Negara kaya yang sedang INSOMNIA karena menahan beban sendirian. Negara ini seperti orang tua yang dilupakan begitu saja oleh anak-anaknya..