Showing posts with label Soul of Me. Show all posts
Showing posts with label Soul of Me. Show all posts

Thursday, 29 November 2012

Dia, Cinta yang Akan Terwujud


#just a (very) short story#


Ada rasa yang berbeda sejak beberapa bulan lalu. Sejak aku mulai ada untuk perempuan itu. Sejak aku harus menguatkannya untuk tetap menatap jauh ke depan. Untuk tetap percaya bahwa harapan selalu ada. Sejujurnya aku banyak belajar dari nya. Dari kegigihannya. Dari ketabahannya. Bahkan dari cara dia bangkit dari rasa sakit hati itu. Dia mungkin saja dan sangat boleh untuk terpuruk jauh ke dalam. Meratapi takdir yang kejam telah membawanya pada nestapa. Tapi dia memilih untuk tegap berdiri, sambil lalu berkata ‘aku sudah memaafkannya’.

Mungkin sejak itu aku sudah menemukan. Menemukan apa yang aku cari selama ini. Semua yang aku inginkan ada padanya. Pun aku pikir dia juga berharap padaku. Tapi aku di sini menjaga kewibawaanku sebagai seorang lelaki. Dan lagi aku belum bisa menjanjikan apapun padanya. Menjanjikkan sesuatu, mungkin bisa menghambatnya untuk mencapai apa yang dia cita-citakan. Cita-cita yang dia tulis dalam berlembar-lembar dream book yang belakangan aku tau dia sudah memilikinya sejak bertahun silam.

Aku ingin menjaganya. Menjaganya hingga suatu saat aku dapat dengan berani berkata padanya untuk selamanya di sisi raga ini, mengisi separuh jiwa yang tak bisa sempurna kecuali bila bersamanya.

Sekarang aku hanya bisa menunggunya mengirimkan sebuah sms ke ponsel, lalu dengan dingin aku membalas atau kadang aku bahkan tidak membalasnya. Itu aku lakukan hanya untuk tetap menjaganya. Menjaga seluruh mimpi-mimpi yang menunggunya untuk terwujud. Hingga aku bisa membantu mewujudkan semua mimpinya, aku baru berani datang. Benar-benar datang.

Tuesday, 20 November 2012

Lega

Awalnya buat masuk ke jurusan ini ogah-ogahan. Itu semester 1 beda sama sekarang waktu udah semester 5 (kepala 2!! #ini apa dibahas lagi kepala 2 >,<). Honestly, setelah lulus SMA dulu, jurusan ini yang paling ndak masuk daftar di list tujuan pasca-SMA ku. Dulu cita-citanya jadi peneliti di LIPI. Pengin buat makanan-makanan baru. Neliti. Tau kandungan gizinya. Semacam itulah. Kalo temen-temenku yang lain sempet nyesel karena ndak masuk di jurusan Kedokteran ato jurusan lain yang mereka pengin, kalo aku bahkan ndak sempet daftar ke jurusan yang aku pengin. Dulu ceritanya udah give up (saking nurutnya sama saran ortu).

Awal perkuliahan males gitu sama apa yang diajarin. Masih mirip-mirip bahkan sama kayak yang diajarin waktu SMA. Tapi ini yang bikin asik sebenernya. Awal semester ini karena kuliah masih ringan, bisa nemuin temen-temen yang passion nya acak-acakan. Main ke sana ke sini. Maklum juga masih jadi orang baru di Solo. Masih suka nyoba tempat-tempat 'baru' di Solo.

Perkuliahan lanjut, jalan terus, lama-lama jadi suka juga. Sekarang suka sama English Education Department. (tetep) bukan karena kuliahnya, tapi karena peristiwa-peristiwa 2,5 tahun belakangan ini yang ndak bisa dibilang biasa tapi juga belum bisa dibilang luar biasa. 

Peristiwa ketemu sama Bapak Mahathir Muhamad, dapet wejangan dari Bapak Irwan Hidayat, ketemu sama Ibu Moeryati Soedibyo, dengerin guyonan Kak Pandji Pragiwaksono, dinner sama Pak Jokowi, ketemu orang keren beberapa kementerian, sampai ng fans a guy who became the most spotlight di Nusantara MUN kemarin #eh

Tapi barusan baca salah satu postingan dari temen. Rada tertampar juga (wuidih bahasanya >,<). Katanya lulusan dari cabang ilmu harus menguasai benar apa yang ada di ilmu nya itu. Semacam pertanggungjawaban lah ketika nanti terjun ke masyarakat. Awalnya sempet ngelak juga. Tapi lama kelamaan bener juga. Ngrasa nyesel juga udah nelantarin jurusan ini. Suka semena-mena. Suka ninggalin sampe berhari-hari kadang berminggu-minggu. Suka banding-bandingin bahwa jurusan lain pasti bisa jadi lebih cocok sama aku. Tapi sebenernya yang harus aku cintain ya ini. English Education Department. 

Lega waktu udah bisa mastiin mau cinta yang mana, walo masih suka deg-degan juga sih. Khawatir dicintain balik ndak. Huehehe. Tapi kalo inget pesen dari seorang karib, 'kalo cinta harus habis-habisan, Mi'.

ahh kamu sekarang lagi apa ya? :D
Malem ini, kayak malem-malem sebelumnya tiba-tiba kebangun. Ada yang sedikit beda. Entah kenapa ada yang ndak nyaman dari kemarin. Kalo ditanya kenapa, aku sendiri juga kurang tau. Mungkin gara-gara udah kepala 2 kali ya. Jadi banyak kepikiran banyak macem, saking banyaknya jadi lupa apa aja. #huehehe

Sebenernya perasaan suka-kepikiran kayak gini udah sering. Kayak misal dulu waktu bolos pertama kali SMA kelas X, kepikiran takut kalo ketauan bakal dihukum, eh sampe aku lulus ternyata ndak dihukum. hehe.. Ada lagi. dulu pernah ndak sengaja minum minuman kadaluarsa, ntah kenapa langsung kepikiran gimana nanti kalo sampe meninggal, eh sampai sekarang masih hidup #alhammdulillah :D

Ahh dulu emang yang dipikirin masih 'sesederhana' itu. Sekarang mungkin juga sebenernya masih 'sesederhana' itu tapi mafhum (lagi) dah udah kepala 2, sederhana malah dipikir rumit.

Wednesday, 26 September 2012

Jiwa

Jika kamu mengatakan itu hal mudah. (Sungguh) satu hal itu tidaklah mudah. Mungkin aku hanya terlalu banyak berpikir tentang banyak kemungkinan. Namun itulah. Itulah perbedaan ini dari pembahasan yang lain. Pembahasan mudah ketika bahasan ini hanya mencakup physically saja. Baiklah akan aku jelaskan lebih rinci.
Untuk menyatukan dua fisik itu tentu hal mudah. Tapi ini adalah tentang penyatuan dua jiwa.
to open up your soul to another person, dan mempersilahkan mereka untuk masuk pada semangat, pemikiran, ketakutan, masa depan, harapan, dan mimpi. Adakah yang masih mengatakan itu hal mudah dan dapat dilakukan secara instan?
Meet me if you find it!

Tuesday, 25 September 2012

Sayap

Aku sudah di sini. Di tempat baru. Masih asing memang tapi aku (mungkin) sanggup tetap di sini. Walaupun aku (sedikit) merana di sini, tapi ini semua tidak bisa untuk ditinggalkan begitu saja. Aku menyukai saat ini. Dan kesukaanku pada saat ini tidak lah kesukaan kesukaan seperti apa yang aku perlihatkan. Mungkin suatu saat akan menjadi bom waktu. Tapi untuk saat ini aku (benar-benar) menyukai ini. Menyukai saat-saat dimana aku bersikap kekanakan. Tapi dalam hati (sungguh) ada sebuah hal yang menjadi banyak pertimbangan. Bukan tentang kamu memang. Tapi ini tentang aku sendiri. Pertimbangan ini adalah pertimbangan yang tak dapat diputuskan begitu saja.

Jika cerita ini tentang keterikatan, biarkanlah ikatan ini bukan menjadi sebuah ikatan rantai, biarkan ikatan ini memberikan sayap bagi masing-masing kita untuk terbang bebas namun kita tetap ingat dimana sangkar kita berada.

Sunday, 23 September 2012

Setengah Rasa


Setengah rasa tuh ndak enak. Beneran dah. Kalo makan bakso, ndak enak kalo kecapnya dikit. Kecapnya harus beneran bikin kuah jadi item pekat. Jadi ntaran ndak jadi rasa setengah kecap ataupun setengah bakso. Rasanya asli kecap. Kalo lagi ndak pengin rasa kecap, yaudah ndak usah dikasih kecap. Jadi kuah asli rasa bakso. Kalo makan es campur, kalo ndak susu nya yang dibanyakin, minta sirupnya yang dibanyakin. Biar rasanya ndak setengah setengah.

Kalo rasanya setengah-setengah artinya campuran dari banyak rasa kan, itu ndak enak di lidah. Lebih enak kalo cuma ngrasain satu rasa aja. Tapi rasanya maksimal. Sampai bikin galau tiap malem. Yah namanya rasa, kalo udah maksimal susah udah kalo pengin dibolak-balik.

Wednesday, 19 September 2012

Transformasi

Akhir-akhir ini banyak temen-temen yang omongannya ngena baget euy di ati n kalo misal dipikir-pikir ada benernya juga. Ini tanda Mia mulai geser dari seorang Koleris jadi Melankolis apa yak. Sukanya mikir pake perasaan. Huehehee..

Ini nih Mia punya beberapa kata-kata bijak hasil dari ngobrol sama temen-temen dan dosen.

"Kalo memahami apapun jangan parsial Mi usahakan menyeluruh."
(Wahyuni, di sela-sela perkuliahan TEFL)

"If You have, give it to others and if You need, take it from others." ~in the context of knowledge
(Kristiandi, S.S., MA., dalam perkuliahan Syntax)

"Di sini Kamu bakalan ndak sempet mikirin diri sendiri"
(Albert Muhammad, nasehat di sela Internship International Office)

"Nulislah, sampe mata udah ndak bisa ditahan lagi buat tidur, sampe badan udah lupa sama yang namanya laper.."
(Septian Suhandono, waktunya pas banget waktu lagi males nulis)

Wednesday, 12 September 2012

Untuk sukses, seseorang harus mengetahui kelebihan dan kekurangannya.

September 12, 2012
(Prof. Dr. Joko Nurkamto, M. Pd. dalam perkuliahan ELT Curriculum)

Saturday, 8 September 2012

Quote of The Day

Kemarin waktu lagi asik ngobrol ngalor ngidul sama temen-temen kelas B Pendidikan Bahasa Inggris 2010, seperti biasanya disamperin Bapak - yang namanya ndak mau disebut - tukang koran yang daerah operasinya di Gedung E. Bapak ini dateng tiap pukul 9 pagi sampe sekitar pukul 11 pagi daaan kalo hari Jumat si Bapak akan lebih gencar melancarkan propaganda kepada tiap mahasiswa untuk segera membeli korannya dengan dalih akan ceramah di Masjid deket rumahnya. Subhanallah!

Bapak tukang koran ini berbeda sama tukang koran kebanyakan. Seperti halnya koran Seputar Indonesia si Bapak setiap harinya punya quote of the day buat disebarin ke para mahasiswa. Edisi kemarin si Bapak bilang:

"Mbak, untuk menjadi seorang penjual yang dibutuhkan adalah tau benar tentang produk apa yang dijual. Dengan benar-benar tau kita bisa menarik pembeli dengan apa yang kita tau itu."

Dan akhirnya temen saya, Ressa, beli koran Kompas yang ditawarin Bapaknya di awal tadi. Mia beli apa? Mia pinjem punya Ressa. :p

Thursday, 8 March 2012

B.E.L.A.J.A.R

Life is learning.
Mr Asib in Speaking Class on Thursday

Hidup untuk belajar. Ya. Memang hidup ini untuk belajar. Namun ketika kesalahan itu dilakukan hingga berulang-ulang akankah itu disebut sebuah proses belajar?

Kadang kita salah mengartikan life is learning sebagai sebuah proverb yang mengijinkan kita untuk selalu berbuat kesalahan yang sama. Namun sesungguhnya esensi dari proverb ini sendiri  adalah mengajarkan kita untuk belajar dan kemudian tidak mengulangi kesalahan yang sama untuk kedua kalinya.
15.08
di sela-sela final JOVEC

Sunday, 8 January 2012

Ini Bangsa AMNESIA

Sekarang ketika kehidupan belum terlalu banyak menuntut kebutuhan, aku masih bisa mengatakan bahwa aku akan menyerahkan seluruh ilmu yang telah aku terima untuk sebuah pengabdian kepada nusa dan bangsa. Namun apakah yang akan terjadi di suatu hari di masa depan ketika aku telah dipengaruhi oleh kebutuhan yang memaksa ku untuk tidak berpikir lagi tentang pengabdian?

Seperti pada sore itu setelah diskusi dengan beberapa orang tentang pendidikan, PNS, hingga pada pokok bahasan yang memang riskan dan mudah dilupakan. Pengabdian. Masih teringat jelas ketika Mas Roseno Hendratmojo mengatakan,”Saat ini kamu bisa mengatakan hal seperti itu. Tapi mari kita lihat beberapa tahun ke depan ketika kamu mulai dituntut kebutuhan. Apakah kamu akan tetap melakukan seperti yang kamu katakan sekarang?”

Sebuah pertanyaan yang menohok dan memang telah menjadi pengganggu dalam pikiranku sejak aku mengatakan bahwa ketika menjadi PNS aku akan sepenuhnya mengabdi pada negaraku. Mengabdi pada nusa bangsa tempat aku dilahirkan. Tanah merahku. Tanah dimana aku berpijak, belajar, dan bertumbuh.

Catatan ini bukanlah sebuah PENGUAT bahwa aku akan melakukan pengabdianku kelak di kemudian hari betapapun aku dituntut kebutuhan seperti apa. Namun catatan ini adalah sebuah PENGINGAT untuk ku kelak di masa depan sehingga aku tidak mengalami AMNESIA seperti apa yang terjadi pada sebagian besar penghuni negeri ini. AMNESIA bahwa mereka telah banyak membebani Negara dengan selalu menuntut dan tidak memikirkan apa yang telah mereka berikan pada Negara ini. Negara kaya yang sedang INSOMNIA karena menahan beban sendirian. Negara ini seperti orang tua yang dilupakan begitu saja oleh anak-anaknya..

Wednesday, 21 December 2011

Berhenti 'Berlari'

Ini pengalamanku ketika menjadi seorang pelari. Bukan pelari yang menginginkan emas di akhir, namun pelari yang menginginkan perpanjangan waktu karena kegelisahan yang sebenarnya dibuat sendiri. Ya. Aku adalah pelari ulung. Seorang pelari yang pandai lari dari masalah. Sebut saja ketika kelas XI, karena terlalu asyik dengan penelitian dan pelatihan olimpiade sampai akhirnya menelantarkan pelajaran sekolah yang sangat penting karena merupakan asupan untuk nilai-nilai rapor akhir semester, setiap akan ulangan selalu pura-pura sakit dan memilih untuk tetap tidur di tempat tidur bersprei ijo dengan gambar powerpuffgirls.

Kebiasaan ini memang berdampak baik terhadap nilai-nilaiku, karena seorang pengidap testophobia akan lebih senang kalo ulangan tanpa ada orang lain di sekeliling. Jadilah aku selalu ulangan di kantor ato di pojokan kelas, sedangkan yang lain sibuk mencatat segala yang diterangkan oleh guru mata pelajaran.

Kebiasaan itu berlangsung cukup lama hingga masuk ke bangku kuliah. Namun semakin hari lelah juga selalu berlari pengin berhenti dan mencoba bertanggung jawab atas apa yang memang seharusnya dipertanggungjawabkan. Ketika aku meninggalkan kuliah dan tiba-tiba harus Uji Kompetensi ya langsung lakukan.

Seperti yang baru aja terjadi. Semalam datang sms dari kating yang menginfokan segala tugas dan jadwal UK untuk beberapa hari ini. (tugas di paragames membuat setidaknya tugas di beberapa mata kuliah terbengkalai). Tiba-tiba merasa bingung dan malas untuk menyelesaikan semuanya.

Namun kemudian tersadar, bahwa apa yang telah kita mulai haruslah itu diselesaikan. Ketika aku memilih untuk mengikuti event APG, tentu terdapat konsekuensi seperti ini. Konsep sms yang akan aku kirimkan ke dosen untuk meminta izin tidak mengikuti UK yang aku buat tadi pagi pukul 02.56 pun tidak aku hiraukan lagi. Saat ini sudah cukup segala bentuk pelarian. Apa yang seharusnya terjadi memang harus aku hadapi. Dengan inilah aku bisa belajar untuk bertanggung jawab.

Kamar Kos
09.13 PM

Monday, 28 November 2011

Porsima Menggalau

Suatu sore setelah evaluasi kegiatan yang diselenggarakan salah satu lembaga di gedung A, ketika sudah lelah dan ingin rehat sejenak, ada laptop nganggur di atas meja. Langsung sabet dan mulai terhubung ke Hotspot ruang sidang gedung A.
Buka facebook dan kemudian ada chat dari sahabat.

Kalis Mardiasih
Mia..
ini Bima.

Mia Febriana
Iya bima.

Kalis Mardiasih
Sini main ke porsima. Ak sama mb kalis lagi di porsima.

***chat seterusnya***

(kepanjangan ntar, cerita intiny malah ngga jadi dicritain -,- )

Dan akhirnya ak di Porsima. Dengan wajah galau ala nenek-nenek langsung menghadap si emak (a.k.a Kalis Mardiasih) dan kakak seperguruan (a.k.a Bima Wirawan), narik-narik baju si emak tetap dengan wajah galau.

‘emak, aku nyesel’
‘nyesel kenapa weh?’
‘ngga keterima YLS’
‘kamu kemarin daftar?’
‘NGGAK’
‘trus nyesel buat apaaaaa?’
‘gara-gara ngga keterima YLS’
‘gmn panitia mau nerima kalo nga daftar. Kamu pinter-pinter tapi sableng juga yaa..’

**jderrrrrr**

‘hhhuuuuuaaaaa’
‘ngga perlu menyesali sesuatu yang ngga diperbuat’ (kalimat super pertama)
‘tetep ajaaaa… hhuuauaaaaa’ (tapi malah tambah histeris)
‘kegagalan itu perlu. Seperti kata Septian, ‘ketika aku gagal, anak ku akan ‘belajar’ lebih. Namun ketika aku sukses,anak ku hanya akan ‘merasa’ lebih’ (kalimat super kedua)

**hening**

Yaa. Kadang kita memang memerlukan satu kata itu untuk berbuat lebih banyak.

Keep Fighting Readers!

Sunday, 20 November 2011

Karena Tulang Rusuk Tidak Mungkin Tertukar

Suatu malam, ketika hujan telah berhenti dan suhu mulai turun membuat ingin segera menarik selimut dan pergi tidur. Dengan sesekali melihat layar handphone barangkali ada sebuah message atau telpon darinya.. Dan benar saja selang beberapa detik kemudian telpon darinya datang.
Seperti obrolan-obrolan sepasang sahabat yang telah lama menjalin hubungan persahabatan ada saja yang kami obrolkan hingga mencapai diskusi tentang kehidupan setelah remaja. Yang setiap orang pasti menginginkan.
Dan pertanyaan itu pun muncul,"Apakah seorang yang saat ini menjadi pacar, besok juga akan menjadi suami/istri? Bagaimana jika tidak?"
Dia dengan tenang menjawab,"Tenang saja, di dunia ini tidak ada tulang rusuk yang tertukar."
Jawaban ini membuat aku berpikir. Dan setelah aku berpikir memang benar jawaban itu. Jadi untuk apa sekarang para remaja 'galau' tentang kehidupan remaja mereka? Itu seperti hanya membuang-buang waktu penting mereka yang bisa digunakan untuk hal yang lebih baik.
Salah satunya adalah membahagiakan orang tua. Buat mereka bangga lebih dulu karena punya anak hebat, baru pikirkan hal lain. Tidak perlu 'galau' dengan cinta saat ini, karena sekali lagi tidak muungkin tulang rusuk tertukar.

Tuesday, 25 October 2011

Hujan

Hujan. Aku menyukai hujan. Entah sejak kapan. Mungkin sejak aku belum bisa mengingat siapa nama ku dan apa yang seharusnya aku makan sehingga harus selalu ditemani ibuku. Mungkin juga sejak hujan membuat ku bermain dengan riang di bawahnya. Mungkin juga sejak aku harus berangkat mengaji padahal hari hujan.

Hujan. Di dalam hujan aku bisa tenang. Bersembunyi dari matahari yang kadang angkuh menampilkan teriknya. Menghadirkan keteduhan yang menyejukkan.

Hujan. Setiap tahun aku menunggu hujan. Karena saat hujan aku akan kembali mengenang saat-saat indah di masa lalu. Hujan yang membawa kebahagiaan. Berkah seluruh makhluk hidup.

Hujan. Saat kecil aku menghabiskan waktu dengan bermain di bawahnya. Membuat aku basah kuyup dan kena marah ibuku. Kamu akan sakit. Beliau selalu berkata begitu. Tapi tak pernah aku sakit karena hujan.

Hujan. Saat dimana aku merasa tenang dengan menghabiskan waktu membaca di bawah rintik hujan di emperan rumah. Atau di dalam kamar jika hujan datang deras. Toh, aku tetap dapat merasakan kehadiran hujan.

Hujan. Saat dimana aku akan memelankan laju motor ku hanya 20km/jam. Dengan begitu aku dapat lama bersanding dengan hujan.

Thursday, 6 October 2011

Sekarang Saya Anak Bahasa!

Judul nya keren yah? hahhaaa.. Jadi gini ceritanya.. Dua tahun lalu, saat cita-cita menjadi hal penting sebagai penyemangat dan hal yang ingin sangat dicapai, aku bercita-cita untuk masuk beberapa Universitas ini:
  1. Institut Teknologi Bandung (segala major tak apalah, yang penting bisa masuk sini)
  2. Teknologi Pangan IPB (rencananya setelah dari sini, mau kerja di LIPI). Kenapa pengin di LIPI? Karena sejak ikut PIRNAS yang mendatangkan orang-orang keren dari LIPI, LIPI menjadi masa depan yang sangat ingin dicapai. hahahaaa..
  3. Teknologi Informasi dan Komunikasi UNY (ditinjau dari kebutuhan guru TIK di Kabupaten Wonogiri, guru TIK aku rasa sangat dibutuhin untuk 6 tahun ke depan, yang artinya saat aku lulus)
  4. Teknik Informatika UNS (seenggak nya ini masih seputar belajar tentang program. hahhaaa)
  5. Fakultas Pertanian UNS (segala major bolehlah, yang penting pertanian. Udah jatuh hati dluan sama fakultas ini waktu dulu nganter karya tulis ke fakultas ini, dan kayaknya fakultas ini emang asik. Soalnya banyak buat karya tulis)
Daaaaannn akhirnya sekarang sayaaa dimanaa???? Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Sebelas Maret Surakarta... :D
Kok bisa siih?

Jadi gini nih ceritanya, waktu aku kelas IX SMP (kurang 3tahunan lah buat masuk PTN) aku cerita nih sama orang tua, pengin masuk ITB. Mereka oke-oke aja sih, karena tau alesanku (yang waktu itu alesan yg sangat alay dan masih kental akan karakteristik anak SMP deh, haha). Tapi setelah kelas XI SMA, masuk ITB jadi angan-angan ajalah. Orang tua jelas ngga ngbolehin kalo alesanku masuk ITB masih sama kayak waktu SMP dulu. Mungkin lain waktu aku cerita sebenarnya alesan masuk ITB apa. hahaa

Kedua, aku bermaksud masuk Teknologi Pangan IPB. Waktu aku bilang rencana ini, waktu ngobrol sama Bapak, beliau langsung bilang: oke! ke Bogor ndk papa. Yang penting aku seneng dan bisa mempertanggung jawabkan pilihan. Beda waktu cerita sama Simbok, beliau langsung menolak mentah-mentah dengan alasan: jauh, ndak ada sodara, kalo sakit ndak ada yg ngrawat, dan kekhawatiran-kekhawatiran yang lain. Gantian aku nih yang jawab "oke" untuk segala alasan simbok yang ndk bolehin aku masuk IPB. IPB = gagal.

Setelah itu, saya tanya ke Simbok, pengin saya jadi apa sebenernya. Beliau bilang, jadi guru. Akhirnya saya browsing tentang major yang ada di UNY (kenapa UNY? soalnya di sini sarang buat jadi guru). Ketemulah sama Teknologi Informasi dan Komunikasi. Aku bilang ke orang tua, mereka langsung bilang "oke. semangat belajar doong biar bisa masuk." dalam hati, udah bilang "yeeeessss!!!". trus apa masalahnya? Masalahnya sekarang adalah ndk boleh sama Mas ku. katanya di Yogyakarta pergaulannya udah ndk sehat lagi (padahal dmn-mana, aku tau pergaulan udah ndk sesehat yang dulu. tapi kan aku punya filter yang insyaALLAH kuat buat menangkal apa-apa yang buruk) tp waktu aku bilang itu semua, beliau ttp bersikeras biar ak masuk UNS aja. Lagian kalo di UNS bisa deket sama dia (masku_red) sebagai seorang mantan penderita brother-complex, aku akhirnya setuju juga.

Naaah masuk ke pilihan keempat. Teknik Informatika UNS. jeng-jeng.. Alesanku gini, oke deh ndk boleh ambil TIK di UNY, ambil TI di UNS aja. Bsk ikut AKTA4, waktu aku bilang ini, langsung ditolak mentah-mentah sama Dewan Direksi yang akan menanggung seluruh biaya ku di perguruan Tinggi (orang tua_red) alesannya macem-macem: ndk prospektif lah, kamu itu cewe lah, Teknik Informatika banyak buat program lah (oh ya sekedar cerita, dulu waktu ikut olimpiade TI, aku sempet ngeluh gara-gara suruh buat program. haha). Teknik Informatika langsung TERELIMINASI.

Yang kelima, Fakultas Pertanian UNS. Oke! ndk boleh masuk k TIK atopun TI yang sedikit ilmunya, udah aku pelajari selama 2 tahun di SMA (terpaksa sih sebenernya belajar ttg ini, biar selamat kalo sedang ngerjain soal sama peserta-peserta lain). Akhirnya pilihan jatuh ke Fakultas Pertanian UNS. Aku pikir ndak papalah aku memeras otak selama dua tahun ndak dipake lagi. Yang penting aku bisa nerusin hobi buat karya tulis. Laaah yang ini langsung ditolak lagi! Lagi-lagi kata Dewan Direksi, pertanian ndk ada bagus-bagusnya, ndak prospektif lah, dan lain sebagainya. oke! dengan muka sedikit depresi, saya akhirnya kirim sms ke salah satu Dewan Direksi (masku nih yang ini). Kurang lebih gini, aku masih inget jam berapa aku kirimnya.

10.50
to: Ms Novi

Mas, saya bagusnya masuk major apa ya?

sender: Sister

10.52
to: Sister

Pend Bhs Inggris aja dek.

Sender: Ms Novi

Setelah sms itu, perdebatan berlangsung hingga satu setengah jam ke depan melalui sms dan juga tatap muka dengan Simbok. Dan juga dilalui dengan acara tangisan ku juga. Karena, jujur, aku ndak punya rencana mau apa besok kalo hidup di Bahasa Inggris. Dari anak ilmu Alam ke Bahasa itu jelas bikin pusing.

Simbok akhirnya ngalah, ngijinin aku masuk UNY, tapi masuk lagi sms dari mas yang bilang tentang Yogyakarta yang semakin hari semakin berbahaya dan tidak adanya sodara di sana. Setelah aku berusaha mempertahankan argumen dan juga mencari pasukan untuk mengalahkan argumen nya mas (berhasil loh, Bapak sama Simbok, akhirnya setuju aku daftar UNY) tapi mas tetep bersikeras biar aku di UNS. Akhirnya aku capek juga (ini artinya aku ndak punya argumen yang lebih kuat lagi. jam 12.20, aku memutuskan untuk mengikuti nasihat masku ini dan menyadari bahwa dasi seragamku telah basah kuyup. hahahaa (buat ngelap air mata).

Daaann akhirnya di sini aku. Belajar sebagai anak Bahasa dan belajar untuk memahami setiap kata dalam Bahasa Inggris. Dan aku bersyukur, karena dulu aku mengikuti saran ini. Kalo ndak, mungkin aku ndak dapetin apa yang sekarang aku capai. Alhamdulillah.. Restu Dewan Direksi memang hebat! :D

Pelajarannya: percayailah mereka para Dewan Direksi di kehidupanmu, mereka yang banyak tau apa yang harus kamu lakuin Mereka, orang-orang yang ketika orang lain jauh, Mereka akan tetap dekat. Karena meraka tinggal di hati kita :)